Mereka lebih lanjut mengutarakan, penelitian tentang omong kosong secara tidak langsung juga mempelajari dampak tersebarnya informasi yang salah.
“Ini bagian dari area penelitian lebih luas yang berkomitmen memeriksa dampak dari informasi yang salah,” tutur Littrell. “[…] Area penelitian yang berkembang ini telah mengungkap beberapa wawasan penting tentang mekanisme dan proses seseorang memercayai berita palsu, informasi yang salah di internet, teori konspirasi, penipuan pemasaran, dan bahkan propaganda politik.”
Littrell membagi pola omong kosong dalam dua kategori. Omong kosong persuasif dimotivasi oleh keinginan mengesankan, membujuk atau mendapat validasi dari orang lain. Pembual melebih-lebihkan kebenaran tentang pengetahuan dan ide mereka. Lalu ada omong kosong yang sifatnya mengelak. Seseorang melontarkan pernyataan tidak jelas ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak dapat berkata jujur.
“Siapa saja bisa memercayai omong kosong jika itu menarik bias yang mereka miliki, membuat mereka mengesampingkan kemampuan menilai informasi secara lebih kritis,” terangnya. Karena itulah orang bisa percaya dengan hoaks atau info menyesatkan yang sesuai dengan keyakinan dan bias politik mereka.
Seperti yang sudah disampaikan peneliti, seseorang bisa memperoleh keuntungan dan diakui orang lain dengan banyak cakap. Littrell mengambil contoh guru spiritual Deepak Chopra. “Chopra meraup keuntungan jutaan dolar dari buku dan ceramahnya tentang ‘kesadaran’. Klaim-klaim absurdnya telah dibumbui istilah dan jargon New Age tentang fisika kuantum, yang membuatnya terdengar impresif bagi sebagian orang, walau sebenarnya ucapan dia sering kali hanyalah omong kosong yang tidak ada artinya.”
“Guru New Age” ini kerap dikritik ilmuwan. Pasalnya, dia mempromosikan pengobatan alternatif dengan klaim-klaim yang menurut ilmuwan tidak ilmiah. Pennycook menggunakan beberapa twit Chopra untuk menciptakan alat pendeteksi omong kosong dalam studinya. “Generator kutipan Deepak Chopra” ini bahkan menyusun kalimat dari “kata-kata yang terdengar dalam” secara acak.
Pertanyaannya, adakah pendekatan omong kosong yang dirumuskan? Bisakah itu membantu kita mendapatkan apa yang diinginkan?
“Pembual cenderung menggunakan doublespeak, sebuah trik linguistik yang memanipulasi persepsi emosional seseorang,” ujar Turpin. “Contohnya menyebut rumah jagal sebagai tempat pengolahan daging agar kedengarannya tidak terlalu berbahaya.”
Dengan kata lain, orang yang besar mulut suka berbelit-belit saat berbicara. Dan untuk menjadi pembual ulung, kalian harus terbiasa menggunakan bahasa atau istilah ribet agar terdengar lebih cerdas. Juga dibutuhkan kepercayaan diri yang sangat tinggi supaya tidak kelihatan maksa.







