oleh

Pro Kontra Vitamin D di Tengah Pandemi Covid-19

Headlines.id –  Vitamin D diketahui dapat membantu mempertahankan bahkan meningkatkan imunitas. Tidak heran jika suplemen dari vitamin ini banyak dicari oleh masyarakat selama masa pandemi.

Belakangan, beberapa penelitian mengklaim bahwa vitamin D berperan penting dalam proses pencegahan dan pengobatan Covid-19. Semua kemungkinan terbuka dari studi-studi yang dilakukan, namun belum ada cukup bukti untuk memastikannya.

Vitamin D adalah vitamin yang larut dalam lemak dan diperlukan untuk kesehatan tulang, gigi dan sistem kekebalan tubuh. Vitamin ini diketahui sudah ada di dalam tubuh dan mampu diproduksi tubuh dari sinar matahari yang diserap kulit.

Untuk wilayah dengan sinar matahari yang cukup sepanjang tahun seperti di Indonesia, biasanya masyarakat tidak akan kekurangan vitamin D. Sebaliknya, untuk wilayah yang kurang mendapatkan sinar matahari seperti di Inggris, masyarakatnya biasanya disarankan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D.

Jelang musim dingin, warga Inggris disarankan untuk mengonsumsi vitamin D. Bahkan, khusus musim dingin kemarin pemerintah Inggris memberikan suplemen vitamin D secara gratis untuk warganya yang berisiko tinggi terhadap Covid-19. Lalu apakah berarti vitamin D dapat mencegah seseorang terinfeksi Covid-19?

Tim peneliti Universitas Northwestern pernah menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi virus corona. Mereka juga menyatakan bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 yang tinggi diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Tetapi para peneliti memberikan catatan terhadap hasil penelitiannya tersebut.

Mereka mengaku butuh penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hubungan antara tingkat infeksi virus dan vitamin D dari satu negara dengan negara lain. Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Sebab, ada perbedaan kualitas perawatan kesehatan, tingkat tes, usia populasi atau jenis virus corona yang berbeda di setiap negara.

“Intinya, belum cukup data untuk bisa bilang bahwa vitamin D dapat mencegah seseorang terinfeksi Covid-19,” jelas Profesor Zubairi Djoerban melalui laman Instagramnya, Selasa (13/7/2021).

Penelitian di India beberapa waktu belakangan menjadi topik hangat, salah satunya National Herald India dengan judul ‘Vitamin D shows promising results in Covid-19 treatment: PGI doctors’.

Dalam penelitian tersebut, tim dokter India menyatakan bahwa studi mereka membuktikan pemberian vitamin D mungkin sekali bermanfaat sebagai bagian dari Covid-19. Namun, mereka juga menyampaikan bahwa pemberian vitamin D sebelum diagnosis tidak memengaruhi hasil pengobatan terhadap pasien.

“Artinya, vitamin D yang dikonsumsi sebelum pasien terdiagnosis Covid-19 dibanding dengan pasien yang tidak mengonsumsi, ternyata sama saja hasilnya,” jelas Profesor Zubairi.

Penelitian juga memuat, apabila dosis vitamin D terlalu banyak, akan ditemukan toksisitas sebagai efek samping. Meski pemberian tambahan vitamin D sebesar 10 hingga 25 mikrogram tiap hari dapat memproteksi pasien terhadap infeksi akut saluran pernafasan, menurutnya belum ada cukup bukti untuk mencegah penyakit Covid-19.

“Dari poin-poin tadi, saya memandang belum ada cukup bukti bahwa vitamin D mencegah seseorang terinfeksi Covid-19. Begitu juga untuk pengobatannya,” jelasnya. Bahkan Food Drug Administration (FDA) tidak mengeluarkan izin untuk vitamin D sebagai bagian dari pengobatan Covid-19.

Profesor Zubairi menegaskan satu-satunya cara paling efektif untuk mencegah Covid-19 saat ini adalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat ini, masih sulit mengetahui apakah vitamin D bisa mencegah dan mengobati Covid-19.

“Hasil beberapa penelitian belum konsisten. Tapi, asupan vitamin D tetap penting, namun bukan dalam rangka mengobati Covid-19,” tutupnya. (bisniscom/hli)

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com


Komentar