oleh

Nadiem Makarim Disorot, Abdul Mu’ti Menguat

Headlines.id – Di tengah isu reshuffle kabinet yang memanas, nama Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti kembali muncul di bursa. Kali ini Mu’ti tidak muncul di bursa calon wakil menteri, namun mengemuka sebagai calon menteri pengganti Nadiem Makarim yang isu santernya akan kena reshuffle kabinet. Benarkah?

Banyaknya kontroversi membuat banyak pihak mendorong Nadiem Makarim dievaluasi. Salah satu yang mendorong Nadiem Makarim dievaluasi adalah Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno. Ia menilai selama pandemi COVID-19 ini Nadiem Makarim tak menunjukkan performanya.

Sementara itu, pakar pendidikan yang juga mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud), Fasli Jalal, juga menuturkan Nadiem Makarim di persimpangan jalan.

“Memang Nadiem siap terima resiko dan dia akan jalan terus (meski banyak kritik), cuma risikonya kepada goncangan politik dan pendidikan menurut saya perlu tertata semua. Jadi saya pikir di persimpangan jalan Nadiem ini,” kata Fasli Jalal, kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).

Baca :  Tiga Pelanggaran di Balik Penonaktifan 75 Pegawai KPK

Namun demikian, meski kerap mengkritik kebijakan Mendikbud yang kadang kontroversial, Fasli Jalal memandang Nadiem masih perlu diberi waktu. “Kita beri kesempatan dia untuk bekerja lebih keras. Mudah-mudahan Nadiem makin berpengalaman, dia kan orang baru nggak mungkin orang baru langsung sukses. Mungkin cari Wakil Menteri senior yang orang dekat Presiden tapi juga dihargai di bidang pendidikan. Kalau kombinasi ini saya kira lebih baik,” sarannya.

Bicara soal wakil menteri, sebetulnya Presiden Jokowi pernah hampir mengangkat seorang wakil Mendikbud. Namun demikian tawaran yang dialamatkan ke Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti tersebut ditolak. Melalui akun media sosialnya, Abdul Mu’ti mengungkap alasan menolak tawaran di penghujung tahun 2020 silam itu.

“Awalnya, ketika dihubungi oleh Pak Mensesneg dan Mas Mendikbud, saya menyatakan bersedia bergabung jika diberi amanah. Tetapi, setelah mengukur kemampuan diri, saya berubah pikiran. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik. Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju dalam jabatan wakil menteri. Saya merasa tidak akan mampu mengemban amanah yang sangat berat itu. Saya bukanlah figur yang tepat untuk amanah tersebut,” kata Mu’ti lewat akun Twitter @Abe_Mukti, Rabu (23/12/2020) lalu.

Baca :  Berduka, Anies dan Keluarga Salat Gaib untuk Tengku Zulkarnain

Presiden Jokowi pun hingga kini tak melantik Wakil Mendikbud pendamping Nadiem Makarim. Nah, di saat isu reshuffle kembali mengemuka dan nama Nadiem Makarim jadi salah satu yang diisukan bakal dievaluasi, nama Abdul Mu’ti mencuat ke permukaan. Pembicaraan tentang Mu’ti masuk bursa calon menteri ramai terdengar di kalangan anggota Dewan di Senayan dan juga kalangan pimpinan parpol.

Kini isu Abdul Mu’ti bakal jadi Mendikbud menguat sama seperti dorongan evaluasi terhadap Nadiem Makarim. Ikatan Mahasiswa IMM melontarkan pernyataan agar Mendikbud Nadiem Makarim diganti, sembari mengapresiasi penggabungan Kemendikbud dengan Kemenristek.

Baca :  Ahok Ungkap Duka Mendalam atas Meninggalnya Birgaldo Sinaga

“Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim, MBA, tidak cukup menampilkan performa yang berarti pada adaptasi pendidikan di masa pandemi COVID-19. Tidak ada terobosan yang berarti itu. Terkesan Mas Menteri hanya berkutat pada konsep-konsep branding Merdeka Belajar, sehingga terkesan lupa akan adaptasi pendidikan di masa pandemi. Sehingga isu pergeserannya menjadi patut dipertimbangkan,” kata IMM, Rabu (14/4/2021).

IMM meminta Presiden Jokowi memilih Mendikbud-Ristek yang tepat. IMM meminta Mendikbud-Ristek yang baru memiliki pengalaman di dunia pendidikan.

“Berbicara pendidikan itu long term (waktu yang panjang). Sehingga perlu mempertimbangkan pengganti menteri yang cakap, berpengalaman dan profesional di dalam pengelolaan pendidikan. Akan lebih pas jika Kemdikbud-Ristek ke depan harus dipimpin oleh sosok yang telah teruji dan kredibel dalam hal manajerial dan paham misi pendidikan kebangsaan,” kata IMM.

(detikcom/hli)


Komentar