oleh

Cerita Eks Petinggi WHO Soal Murahnya Tes PCR dan Harga Obat di India

Headlines.id – Sebelum kembali ke tanah air dalam rangka persiapan pensiun sebagai Direktur Penanggulangan Penyakit Menular WHO untuk Kawasan Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menjalani uji PCR pertengahan September lalu. Tes dilakukan di teras rumah dinasnya oleh petugas laboratorium di New Delhi, India. Biayanya cuma Rp 480 ribu.

Atas saran anaknya yang seorang dokter, dia kembali menjalani tes PCR di sebuah rumah sakit di Jakarta. “Tarifnya Rp 1,3 juta ha-ha-ha,” kata Prof Tjandra Yoga dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (30/10/2020).

Tak cuma itu. Ahli paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu juga menyebut harga obat-obatan di India juga jauh lebih murah ketimbang di Indonesia. Tak heran bila sejumlah koleganya yang menjadi dokter kerap minta dibelikan obat di India.

Sebelum ada pandemi COVID-19, Prof Tjandra Yoga mengaku biasa pulang ke Jakarta sebulan sekali. Di saat itulah koleganya titip dibelikan obat-obatan tertentu.

“Harganya memang bisa lebih murah 50 persen bahkan lebih dari harga di sini. Jadi, bukan cuma biaya PCR harga obat pun lebih murah,” kata mantan Dirjen Perlindungan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI itu.

Kenapa India bisa demikian, Prof Tjandra Yoga menduga karena ‘Negeri Sungai Gangga’ itu punya banyak persediaan bahan baku obat. Jumlah penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa menjadi pangsa pasar sangat besar sehingga bisa menurunkan ongkos produksi. Selain itu, upah pekerja di India kemungkinan lebih murah.

“Tapi soal upah pekerja ini saya tidak tahu persis ya,” ujarnya.

Duta Besar India untuk Indonesia Gurjit Singh, 2012-2015, pernah mengungkapkan alasan lain kenapa negerinya dapat memproduksi dan menjual obat dengan harga sangat murah. Selain punya bahan baku dan pangsa pasar di dalam negeri sangat besar, kata dia, banyak ilmuwan yang belajar di Amerika lalu mengembangkan obat di negaranya.

Dalam bidang farmasi India merupakan negara eksportir obat generik terbesar di dunia. Secara volume, negeri itu juga menjadi eksportir obat generik terbesar dengan jaringan industri yang kuat karena 15% ilmuwan farmasinya berada di AS. (detikcom/hli)

Komentar