oleh

BI Berupaya Sinergikan Lembaga Keuangan Syariah dan Industri Halal

Headlines.id ~ Bank Indonesia (BI) berupaya mengoneksikan antara lembaga keuangan syariah dengan industri halal.

Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Muhamad Irfan Sukarna mengatakan, konsep bisnis keuangan syariah seharusnya bisa bersinergi dengan industri halal yang juga memproduksi barang halal.

“Harusnyakan bersinergi, dan itu memang membutuhkan waktu,” jelas lrfan kepada Sharianews saat ditemui seusai acara Gunadarma Sharia Economic Event 2019.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, industri halal di Indonesia yang paling menonjol dan menjadi unggulan adalah sektor makanan halal, kemudian diikuti industri lain seperti kosmetik dan farmasi. Makanan halal memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan dan cukup signifikan.

Contohnya seperti Perusahaan Nestle yang sudah memiliki sertifikasi halal, kemudian juga Perusahaan Kapal Api.

Bila sektor industri makanan halal ini bagus, produknya bisa diekspor ke berbagai negara. Meningkatnya nilai ekspor, akan berpengaruh pada valuta asing atau valas.

Saat ini, menurut lrfan yang terjadi justru sebaliknya. Banyak produk luar yang masuk ke Indonesia, sehingga lndonesia lebih banyak mengeluarkan valas.

Oleh sebab itu, BI menaruh perhatian yang cukup besar pada industri halal. Dengan mengembangkan industri halal, dapat menekan masuknya produk dari luar. Indonesia diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga bisa mengurangi impor dan meningkatkan nilai ekspor.

Berdasarkan Global Stage Economic Report, potensi industri halal lifestyle secara global tercatat mencapai 2 miliar dolar AS pada tahun 2016 dan diproyeksikan akan tumbuh menjadi menjadi 3,1 miliar dolar AS pada 2022.

Dengan besarnya potensi tersebut, tidak mengherankan jika negara-negara di dunia, berlomba-lomba dalam mengambil peluang, tak terkecuali Indonesia. (Wrt/hli)

Komentar