oleh

Yusril VS HRS Hanya Sensasi Politik

Headlines.id. Mendekati hari pencoblosan 17 April 2019, banyak isu politik menyeruak. Mulai upaya delegitimasi Pemilu, manuver jet tempur yang mengganggu pesawat Prabowo Subianto, hingga aksi penghadangan Cawapres KH Ma’ruf Amin. Terbaru, publik disuguhi perseteruan antara Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS). Ada yang menilai fenomena itu sebagai gejala kampanye hitam. Ada pula yang menganggap sensasi politik belaka.

Pakar hukum Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya Joko Sumaryanto menyarankan agar Yusril dan HRS melapor ke polisi, untuk menguji siapa yang paling benar. Apalagi, Yusril yang juga pakar hukum tata negara itu sudah membeber bukti screen shot percakapan Whatsapp yang menyoal keislaman Prabowo Subianto, capres 02.

“Harus ada yang mengadu ke polisi terlebih dahulu. Untuk bisa masuk ke ranah pidana, pernyataan-pernyataan dan bukti-bukti harus bisa diuji kebenarannya,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Ubhara itu, Kamis (4/4/2019).

Meski begitu, dirinya meragukan perselisihan dua tokoh Islam ini bakal berlanjut ke laporan polisi. Soalnya, sambung Joko, perseteruan semacam ini hanya sensasi politik belaka. Apalagi hari H Pemilu 2019 tinggal dua pekan lagi. “Ini kan suhu politik lagi panas. Nanti semakin dekat hari-H, semakin jantungan. Tapi itu cuma sensasi politik saja,” tutur Joko.

Indikasi Panik

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Abdul Chalik mengatakan, fenomena perselisihan dua tokoh Islam ini boleh disebut dengan gejala kampanye hitam. Menurut Chalik, mestinya kampanye yang baik itu saling adu program. Tetapi yang terjadi belakangan ini, para politisi justru mengumbar ’aib-aib’ yang mestinya tidak menjadi konsumsi publik.

“Ada pihak yang merasa terdesak. Jadi, mereka menghalalkan segala cara, termasuk black campaign,” papar Chalik dihubungi terpisah, kemarin.

Terpisah, pakar komunikasi politik asal Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo juga menyebut hal sama. Menurut Suko, adalah hal yang lazim ketika suhu politik masional kian memanas jelang hari-H coblosan.

Dijelaskan, gejala memanasnya suhu politik itu ditandai dengan adanya saling serang dan sebaran informasi yang massif. Selain itu, sambung Suko, obral ’aib’ antara rival politik adalah indikasi kepanikan. “Ini bisa menunjukkan adanya kepanikan sehingga mereka saling ungkap sesuatu yang selama ini tersembunyi,” beber Suko.

Sikap PBB Jatim

Sementara itu, Ketua DPW Partai Bulan Bintang (PBB) Jawa Timur, Mohammad Masduki menegaskan meski ada perselisihan antara PBB dan FPI, tetapi di Jatim tidak ada pengurus yang berasal dari FPI. “Caleg DPRD Provinsi ada 1 orang dari unsur FPI dan sampai hari ini masih aktif beraktifitas sebagai caleg,” ujar Masduki.

Mengenai konflik dengan pentolan FPI, Masduki mengatakan apa yang dilakukan Yusril untuk menjaga eksistensi dan kehormatan PBB. “Pak Yusril tidak pernah menyerang. Tapi ketika ada serangan kepada PBB dari pihak manapun pak Yusril dan kita semua akan membela diri,” tandasnya.

Tokoh asal Madura KH Ali Badri membela Habib Rizieq. Menurutnya, HRS sebagai pihak yang benar. Ini ditunjukkan dengan konsistennya sikap HRS mendukung calon yang dipilihnya (Prabowo Subianto). Berbeda dengan Yusril yang bermanuver di Pilpres ini.

“Orang Islam harus cinta Habib Rizieq. Dia orang yang tidak mau uang dan kekuasaan. Tidak seperti Yusril yang pengkhianat. Dulu dukung Prabowo, sekarang Jokowi,” ungkap Ali Badri yang menolak dirinya disebut anggota FPI.

“Anies (Baswedan) itu bisa menang karena HRS,” sambungnya dengan berapi-api.(wrt/hli)

Komentar