oleh

2025 Jakarta Tenggelam

Headlines.id – Seperempat dari 661 kilometer persegi tanah di Jakarta terendam banjir dalam kurun waktu kurang dari satu dekade. Ibukota yang luas tersebut akan terus tenggelam secara cepat selang beberapa tahun kedepannya. Langkah-langkah pencegahan harus diambil untuk menjamin kelangsungan hidup kota tersebut, seperti yang para ahli telah ingatkan.

Air laut diperkirakan akan menutupi kota sekitar 26,86 % pada tahun 2025. Jika tidak ditindaklanjuti, maka 35,61 % dari kota akan terendam sepenuhnya, berdasarkan studi Divisi Geodesi Insitut Teknologi Bandung (ITB).

“Jakarta Utara bisa 90 % berada di bawah air tahun 2050,” ucap tim ITB, Heri Andreas kepada The Jakarta Post. Tenggelamnya kota itu menurut penelitian bukan karena naiknya laut ke permukaan, melainkan tenggelamnya kota itu sendiri. Penggunaan air tanah yang berlebihan menjadi penyebab utama masalah tersebut.

Berdasarkan penelitian dari ITB menunjukkan bahwa dari tahun 1925 sampai 2015 terdapat penurunan tanah. Yang signifikan dimulai dari tahun 1975 dengan Jakarta Utara terkena dampak yang paling parah. Tanah di Cilincing dan Madura tenggelam 1,5 meter pada tahun 2015. Sementara Kepala Gading dilaporkan tenggelam sampai 2,4 meter. Wilayah pluit terkena dampak terparah dengan mengalami penurunan tanah hingga 4 meter.

Ahli geofisika Universitas Indonesia (UI), Dr. Syamsu Rosid melalui penelitian mikrogravitasi 4Dnya mengatakan tingkat penurunan tanah Jakarta cukup mengkhawatirkan.

Metode yang digunakan dalam mencatat penurunan tanah dengan merekam kekuatan gravitasi suatu daerah dalam 4 tahun, 2014 hingga 2018. “Hasil penelitian tersebut mencatat bahwa daerah paling terkena dampak adalah wilayah pantai. Jakarta Utara tenggelam sekitar 11 cm setiap tahun karena exksploitasi tanah dari manusia,” kata Rosid.

Eksploitasi tanah dapat mempengaruhi stabilitas bangunan serta infrastruktur serta meningkatkan resiko banjir pasang. Pipa air yang terdapat di kota hanya terdapat 60 %, berdasarkan data dari PT. PAM Jakarta Jaya. Sehingga sisa 40 % air berasal dari air tanah.

Data dari Dinas Perindustrian dan Energi menunjukkan bahwa sekitar 4.231 bangunan-bangunan komersil. Seperti hotel dan kantor sebagian besar masih menggunakan air tanah. Selain penggunaan air tanah yang tidak terkontrol, penurunan tanah juga diakibatkan kurangnya ruang hijau. Aspal dan beton mencegah penyerapan air ke tanah.

Jakarta dilintasi oleh 13 sungai, namun tanah kota terdiri dari sedimen atau alluvium. Dan ditimbun oleh sungai yang gembur, sehingga rentan akan erosi.

“Melihat beberapa faktor tersebut, kami mendesak pemerintah kota agar mengevaluasi kembali rencana tata ruangnya (RTRW),” kata Dr Syamsu. Dia menambahkan bahwa semua pihak perlu mengikuti aturan zona yang ditetapkan di dalam RTRW.(wrt/hli)

Komentar